This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 21 Maret 2013

Rekreasi Ke Gunung Bromo

Salah satu yang dilakukan oleh teman-teman IKLIMA dalam rangka menjalin solidaritas adalah melakukan wisata alam (Rekreasi), tadabbur alam dan sebagainya. Berbagai macam kesibukan tentunya dihadapi oleh teman-teman IKLIMA baik yang bersifat akademis karena anggota IKLIMA terdiri dari beberapa kampus yang berbeda dan organisasi ekstra yang berbeda pula. Tetapi hal itu tidak menjadikan salah satu indikator terjadinya kesenjangan bagi anggota IKLIMA. Salah satu aplikasi tersebut  adalah rekreasi ke Wisata Alam Gunung Bromo.

















Minggu, 17 Maret 2013

Epesode Kematian

Didalam rumah tua ini kawan,
Pada saat epesode sekarang suatu hal yang tak biasa dianggap lumrah
Dan salah bila tak ikut yang tidak biasa,
Mengerikan.........!

Kiai tak lagi menuntun santri-santri memperbaiki nurani
Melainkan sibuk menata kursi dan diskusi

Banyak perempuan memperkecil busana
Yang hanya menutup lingkaran-lingkaran dada
Cadar dimuka bilang "buat apa"

Pada epesode sekarang,
Haram dan halal tak beda
Asal harum walau haram boleh saja

Para pemimpin tuding-menuding
Saling menyebut "anjing"
Bukan mencari jalan keluar setiap persoalan yang semakin licin


Epesode sekarang,
Pembahasan kursi-kursi tak kunjung usai
Baik dalam mesjid yang tak pantas jadi tempat perbincangan
Atupun dalam gedung yang semakin lihai

Epesode sekarang,
Sepi uluran tangan
Yang banyak hanya perebutan sandang-pangan
Sampai rela menjual iman Agar aman
Rasa kasihan dan toleran sudah mati terbungkus kafan

Epesode sekarang,
Sangat sulit untuk diterjemahkan
Susah disimpulkan
Walau membuka kamus hanya mendapat arti yang meragukan

Semua panutan digulingkan kekuasaan
Tak bisa ditebak arah-jaraknya

Malang,18 November 2012



By : Mas'udi


Selasa, 26 Februari 2013

Kebersamaan IKLIMA









Kongres Ke-III

Prosesi pelaksanaan kongres ke-III yang di laksanakan di Masjid Darussalam Desa Landungsari Kecamatan DAU Kabupaten Malang








Imajinasi "IMAJINATIF" Wujud Pengetahuan

Ketika saya menulis bahan ini, penulis teringat pada wejangan guru MAN Sumenep Ibnu Hajar, Mpdi. Guru saya berkata seperti ini " Kalau bercita-cita"Imajinasi" jangan setengah-setengah. bercita-cita setinggi langit, biar kalau jatuh tersangkut pada ranting-rantig yang lain". Walau perkataan itu disampaikan dengan setengah bearcanda, setelah saya cermati ada benarnya, bahwa cita-cita itu sangat penting dan bisa memacu semangat seseorang,
Albert Einstein berpendapat bahwa "imajinasi lebih penting daripada pengetahuan", Perlu ditanamkan bahwa kekayaan berada dalam kekuatan otak, bukan terletak pada kemampuan otot.Dari kutipan tersebut dapat kita mengatakan bahwa tumbuh berkembangnya ilmupengatahuan melalui proses “imajinasi” nalar yang konstruktif.
Sebab sebuah imajinasi dapat membangun sebuah pengetahuan yang baru. Sebelum kita melangkah pada pembahasan yang lebih urgen, alngkah baiknya kita mengatahui apa itu imajinasi, Imajinasi : Adalah gambaran angan, daya membayangkan; kahayalan. Berangkat dari definisi tersebut dapat kita menarik benang merah bahwa imajinasi merupakan sebuah kerangka fikir Alfikr yang memiliki sebuah tujuan, dimana lahirnya tujuan itu terbentuk dari sebuah kayalan. “kemudian hayalan itu diwujudkan dalam sebuah instrumen yang konkrit dan ilmiah”.
Islam sebagai agama Rahamatallil-alamin mengamanatkan bagi seluruh ummatnya untuk mampu menangkap “berimajinasi” dari setiap yang kita temui. Landasan itu bisa kita ambil dari di turunkannya ayat alquran pertama Al-alaq “iqro” bacalah. Di mana kalau kita telaah lebih dalam dari konteks ayat tersebut bahwa tuhan lewat wahyu yang disampaikan kepada Muhammad Sw. secara tidak langsung merupakan tantangan kepada kita, untuk selalu gelisah terhadap fenomena yang ada di sekitar kita. Kita dituntut untuk memiliki kemampuan menangkap setiap apa yang kita temui. Tentunya pembacaan “imajinasi” itu akan membawa kita “ummat” pada sebuah penemuan-penemuan baru.
Akan tetapi tidak semua imajinasi fositif, ada juga imajinasi yang negatif. Contoh sederhana dari imajenasi negatif “berhayal memiliki istri teman/tetangga” dll. Akan tetapi dalam pembahasan ini akan diprioritaskan pada sebuah pembangunan imajinasi yang positif.
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti kemajuan teknologi tidak lepas dari kegelisahan “imajinasi” individu yang diwujudkan dalam krangka ilmiah.
Semisal perkembangan dan penemuan-penemuan dalam kependidikan terutama cara mengajar. Awalnya pendidikan (pengajar) dikembangkan dengan metode ceramah, kemudian berubah KBK (kurikulum berbasis kopetensi) KTSP (kurikulun tingkat satuan pendidikan). Semua metode tersebut merupakan bentuk konkrit dari kemampuan seseorang dalam berimajenasi.
Akan tetapi sebuah imajinasi akan menjadi kerangka yang kering apabila tidak ada tindak lanjut. Oleh sebab itu, apa yang kita bangun lewat imajenasi tersebut harus direalisasikan “praktek”.
Sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955). “Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”.
Dari kita berfikir “imajenasi” maka lahirlah sebuah teori, kemuadian dari teori tersebut kita peraktekkan. Kata yang digaris bawahi kalau kita analis mendalam, “bahwa hanya orang-orang yang jenius “imajinasi” kuat yang mampu memadukan antara teori dan peraktek.
Dalam khasanah peraktek pengagas pendidikan pertama Ki Hajar dewantoro juga telah melakukan hal yang sama yaitu mengembangkan “imajinasi” pendidikan dengan tataran pada saat itu. Pandangan Ki Hajar Dewantara (1950) sebagai berikut :“Taman Siswa mengembangkan suatu cara pendidikan yang tersebut didalam Among dan bersemboyan ‘Tut Wuri Handayani’ (mengikuti sambil mempengaruhi).
Arti Tut Wuri ialah mengikuti, namun maknanya ialah mengikuti perkembangan sang anak dengan penuh perhatian berdasarkan cinta kasih dan tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksa, dan makna Handayani ialah mempengaruhi dalam arti merangsang, memupuk, membimbing, memberi teladan agar sang anak mengembangkan pribadi masing-masing melalui disiplin pribadi”.
Kiaranya gagasan Ki Hajar dewantoro pada masa lalu sampai saat ini masih relavan. Para pakar pendidikan dan pengembangan pendidikan itu sendiri terilhami oleh Ki Hajar dewantoro. Dalam kajian ini tidak ada kesimpulan yang bisa penulis berikan biarkan nalar imaji kita mengkonkkritkan segala yang terlintas dalam benak. 

Oleh : Mahmudi Ibnu Mas'ud

Kamis, 21 Februari 2013

Berita, Bukan Anti Kritik

"Saya tidak suka pada teman-teman di Malang, Organisasi (...........) menjadi hancur berantakan karena kritikan......"

Tak Ada Masalah Dengan Saya

Kutipan di atas itu saya dengar dari teman yang saat ini masih kuliah di Malang, dan sekaligus disarankan kepada teman-teman di Malang saya khususnya. Bahkan menurut keterangan teman yang menyampaikan kepada saya , sayalah orang yang mungkin mengkritik dan saya pulalah yang menjadi penyebab kehancuran organisasinya.

Dengan sikap penuh lugu teman saya itu bertanya dan mengira saya pernah berkomentar sesuatu di jejaring sosialnya. Saya pun menjawab "Seingat saya, saya belum pernah berkomunikasi atau memberikan statement apapun pada orang itu".

Harmonisasi Budaya Lokal, Dalam Prespektif “Ekonomi” Modern

Mon Ajem je' tek ma petek. Mon pete' je' jem ma ajem
(Berperikulah-lah secara proporsi, dan jangan mempolitisir diri)

Ungkapan bahasa madura di atas terlontar dari seorang Ulama' kampung K. H. Abdul Aziz (Almarhum). Ketika itu  K. H. Abdul Aziz mengumpulkan masyarakat untuk menghimpun dana pembangunan masjid. Ungkapan Mon Ajem je' tek mapetek. Mon petek je' jem ma ajem, merupakan penegasan sikap dan perilaku "kalau orang kaya ya jangan menyumbang seperti orang miskin dan prang miskin tidak perlu iri dengan orang kaya".

Kalau didalami ungkapan bahasa madura di atas, ternyata meiliki aspek yang luas dalam kehidupan sehari-hari kita. Pertama masalah perilaku, kedua budaya, dan yang ketiga masalah gaya hidup dan pergaulan. Ketiga aspek itu kini telah mengalami polarisasi dan pergeseran yang besar. Kemajuan di bidang teknologi telah menggeser nilai-nilai lokal.

Pancasila 'UUD 45' Adalah Harga Mati "Merah Putih Berkibarlah, Indonesia Tetap Jaya"

 Kami mengakui bahwa Al-qur'an adalah sebagai petunjuk 'Imam' san Al-hadits sebagai sunnaha Rasulullah SAW. Kami pun melaksanakan shalat yang lima waktu, kami berpuasa sebagaimana rasul ajarkan, kami juga melakukan hal-hal yang ma;ruf san mencegah yang mungkar "kami adalah islam", tai kamibukan bangsa arab yang harus inklut dalam budaya ke-arab-araban. Kami adalah rakyat 'bangsa' indonesia yang lekat dengan kultur dan budaya ke-indonesiaan, dan kami tidak harus ke-arab-araban. Kami bangga dengan pancasila, kamipun sangat apresiatif terhadap undang-undang dasar 45 yang lahir dari keringat para pejuang.

Kami warga indonesia, yang beragama islam, tapi islam-kan tidak berarti harus kearab-araban seperti yang telah disinggung di atas. Kami punya budaya sendiri. Budaya kami beradap dan memilki nilai etik-estetik, dan kami akan tetap mempertahankan hal itu. Bukankah islam adalah Agama rahmatan lil-alamin, yang damai dan bisa berdampingan dengan budaya mana-pun ‘termasuk di indonesia, bukankah pancasila dan undang-undang dasar 45 tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal islam, lantas kenapa ada sebagian orang yang hendak merubah idiologi kebangsaan dengan alasan sebagan kewajiban dan keharusan agama ”jihad”? Apa islam harus seperti itu ?

Kami bangga indonesia dan benci terhadap teror “terorisme”, saya tidak hendak mengatakan teror itu idintik islam, tapi kalau ada pemeluk islam yang menjadi kaki tangan-budak meneror negri ini itu benar adanya. Dan kami tidak akan pernah marah atau sakit hati terhadap orang yang mengatakan islam idintik teror, karena saya yakin islam tidak pernah mengajarkan teror seperti yang sebagian orang katakan. Hanya orang-orang yang tidak paham islam yang kemudian mengkaitkan islam sebagai penyebab teror. Kalau mereka belajar lebih dalam tentang Islam tentu hal yang demikian itu tidak mungkin terjadi.

Kami yakin tidak akan pernah ada golongan apa pun yang berani melawan kekuatan islam, termasuk AS yang dianggap musuh islam, namun saya tidak setuju jika AS dianggap sebagai musuh islam, karena kita tau perkembangan islam disana saat ini semakin mengembirakan, lantas apakah kita masih memaksakan harus beridiologi islam pula, tidak. Kita tidak hendak mempersoalan keyakinan personal, karena kayakinan adalah persoalan perifat, yang tau hanyah hamba dan tuhan itu sendiri.

Islam yang dikatakan teroris oleh orang-orang tertentu termentahkan dengan sendirinya, karena populasi pemeluk islam bertambah berkisas di atas 75% pertahunnya ini adalah kebanggaan, sekaligus mematahkan klaim islam sebagai teroris. Dan indonesia harus bersih dari berbagai teror “terorisme”.

Indonesia adalah indonesia, indonesia tidak harus keislam-islaman “menegakkan khilafah ikslam” perjalanan atau sejarah ke-indonesia selama ini sudah sudah baik dan terus melakukan berbagai perubahan yang Insyaallah semakin baik. Persoalan masih terdapat kekurangan di sana-sini maka hal itu adalah wajar. Namun kami oktimis indonesia akan terus berdigdaya di langgang dunia internasional, dan akan menjadi trenseter dunia.

Maka hanya orang-orang yang tidak menggunakan hati nuranilah yang hendak mengemposi negri ini ‘mereubah ideologi-menebar teror dll’ patriotisme dan nasionalisme harus kita pertahankan dan merupakan harga mati. Kami hanya merekonmendasikan kepada seluruh rakyat indonesia supaya tetap perpengan teguh terhadap keyakinan yang baik, memelihar perdamaian, menjung-jung tinggi nilai-nilai kebenikaan. Hidup Indonesia …… Berkibarlah merah putihku di bumi yang permai ini.

Rabu, 20 Februari 2013

Rekonstruksi Pemikiran Wong-IKLIMA Dalam Kepeminpinan Transpormatif

Ucapan terimakasih saya sampaikan pada rekan-rekan IKLIMA  (Ikatan Alumni Al-In’am Malang) yang senantiasa memberikan ruang diskusi menarik, sebagaimana dilakukan pada malam ini 21 April 2012, saya mendapat masukan yang sangat berlian dari obrolan singkat malam ini. Saya pikir, pemikiran-pemikiran konstruktif dan analitis seperti perlu kita jaga dan tradisikan.

Saya pun apresiasi pada rekan-rekan yang konsisten pada niat dan kometmennya untuk sama-sama melakukan perubahan dan perbaikan, tentu sebagaimana terjadi dalam diskusi bahwa cara perjuangan dan pengabdian tak harus sama. Upaya perubahan bisa dilakukan dengan banyak cara, bisa melalui sistem, bisa juga melalui non sistem. Namun perlu saya tekankan di sini, sitiap pilihan pasti memiliki resiko dan implikasi sesuai konteksnya.

Bagi rekan-rekan yang memilih jalur perjuangan melalui sistem pasti memiliki resiko positif dan negatif. Berjuang melalui sistem menurut hemat saya akan lebih efektif dan bisa dilakukan dengan keterukuran. Penyampai gagasan atau ide akan lebih mudah tersampaikan, terakomodir.  Namun tentu akan nada tantangan yang tak bisa teman-teman hindari. Setiap upaya perubahan pasti akan menimbulkan pro dan kontra, ada yang mendukung dan ada pula yang menolak bahkan mungkin akan mendapat perlawanan “penolakan”, semua itu menjadi resiko pada seorang pencangan perubahan. Penolakan itu bisa datang dari sistem itu sendiri bisa juga dari objek yang teman-teman bidik di lapangan, hal-hal yang demikian tak menutup kemungkinan akan dihadapi oleh teman-teman.

Saya pikir apapun kondisi medan juang yang rekan-rekan hadapi, hendaknya tidak menyurutkan niat dan pengabdian teman-teman untuk ummat. Tanggung jawab kita adalah mendorong perubahan kearah yang lebih baik (konstruktif), dan saya pikir inilah tantangan kita sebagai insan akdemik.

Bila sebagain yang lain berpandangan memelihara keadaban budaya yang ada sebagai satu keharusan saya setuju. Namun kitapun harus sadar akan konteks peradaban modern yang terus menyerang dari berbagai arah. Mengantisipasi peradaban modern tidak bisa dilakukan dengan membentengi “mengasingkan diri dari pergaulan modern” diri. Mau tak mau kita mesti mengakrabi peradaban modern, menurut Drs. Hamid Fahmy Zarkasi “Kita kalah dalam istilah terminologi”, kekalahan ini lantaran sikap dan keengganan kita, artinya sikap abai terhadap kemajuan modern harus ditinjau ulang, kita harus mengambil peran aktif dengan terus mengimbangi arus modern dan tak boleh terbawa arus.

Maka pembagian peran sebagaimana dilakukan oleh teman-teman merupakan langkah maju yang harus terus ditumbuhkan guna tercipta satu keadaban sosila yang berwibawa dengan tetap berpegang pada nilai keadaban yang ada, apa yang teman-teman singgung dalam diskusi merupakan satu pernyataan sikap, sekaligus bisa dijadikan satu perbandingan bagi rekan-rekan di internal IKLIMA bahkan bisa menjadi kaca, begitulah kondisi sosial kita saat ini.

Pertanyaannya apakah kita akan mengikuti arus yang ada, atau kita melakukan ancang-ancang plan peruabahan. Sebagaimana saya sampaikan dalam forum, perjuangan yang kita lakukan harus mempertimbangkan implikasi ke depan. Saya percaya setiap pandangan teman-teman baik yang “ekstrim/mengalir” sama-sama memiliki nilai unik. Saya sepakat bahwa pertimbangan sosial dan kultur tak boleh disepelekan, namun perlu rekan-rekan pahami kadang satu perubahan memang harus ditempuh dengan cara radikal.

Mendorong perubahan dengan cara radikal memang terkesan inklusif dan masih dipandang sebagai hal yang tabu. Namun berdamai dengan kondisi yang distruktif “bermasalah” juga hanya akan menjadikan kita sebagai manusia yang kerdil, berpura-pura (menjadi manusia sok baik, pembela dll) tapi mengabaikan persoalan yang subtansi, cara semacam ini saya pikir caya yang tidak jantan dan tak mencerminkan karakter.

Perubahan adalah hal yang niscaya, tak bisa kita menghindarinya. Maka cara terbaik adalah melakukan satu konsolidasi mental.  Ya kita harus merubah mental dan pola pikir lama menuju satu pemikiran yang transformatif dan dinamis. Sebagaimana saya contohkan, misal peran komonikasi media (jejaring social, TV, Koran dll) kita tidak bisa menyepelehkan peran dari masing media itu. Maka seorang pendidik atau mereka yang memiliki perhatian pada pendidikan mau tak mau harus mengakrapi media-media tersebut.

Jangan sampai anak didiknya sudah mahir memanfaatkan perkembangan teknologi dan media, tapi gurunya masih gagap terhadap perkembangan “teknologi” media.  Maka di sinilah pentingnya pendidikan sepanjang masa. Artinya apa, mau tak mau para praktisi pendidikan harus terus melakukan ubdate keilmuannya, sekaligus terus melakukan adaptasi terhadap kemajuan media teknologi saat ini.

Bila ada pandangan pendidikan sepanjang zaman adalah adaptasi dari barat saya kurang setuju. Karena  pendidikan sepanjang masa merupkan hal yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. bahkan saya membahasakan pendidikan sepanjang masa sebagai satu yang wajib. Namun banyak dikalangan kita masih mengabaikan pentingnya pendidikan (anak) dan lebih mengejar nilai spiritual seprti pergi kebaitullah. Sedang tanggung jawab untuk mengantarkan anak agar memiliki bekal pengetahuan yang cukup kurang mendapat prioritas.

Maka tugas seorang guru ke depan tidak boleh hanya terpaku pada tanggung jawab materi saja, namun harus mencakup segala hal (integrasi agama dengan peradaban, sosial masyarakat dan kebudayaan).  Jangan samapai ada ungkapan pendidikan pesantren mati enggan majupun enggan. Saya lihat harus ada formulasi kebijakan yang terus mengedepan get ruts pembenahan dan perbaikan, baik itu dari tipikal kepemimpinan dan cara pengajaran.

Melihat konteks kepemimpinanan, pemimpin yang baik itu seperti apa dan bagaimana?. Dan bila sampai saat ini masih ada tipe kepemimpinan yang otoriter dan satu arah. Maka saya pikir harus dilakukan tranformasi kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mengedepankan kepentingan ummat yang lebih luas. Jangan mengorban ummat hanya lantaran mempertahankan egois kekuasaan. Terkait kepimpinan saya pikir kita bisa melihat sejarah kepemimpinan dari berbagai Negara dengan multi disiplin keilmuan.

Menurut hemat saya, tidak ada kepemimpinan yang sempurna sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. ambil satu contoh ketika dulu ada senggeta pemindahan hajar aswat dengan berbagai suku dan kabilah saat itu, Nabi yang dikenal jujur dan bijak didapuk untuk memecahkan persenggetaan antara suku dan kabilah saat itu. Maka dengan kecerdasan dan dimisioner kepemimpinan, Nabi Muhammad SAW. memberikan satu opsi yang sangat demokratis dengan pengajuan syarat “barang siapa lebih dulu masuk di Masjid” maka dialah yang berhak menganggakat batu mulia tersebut.

Opsi yang diajukan oleh Nabi Muhammad mendapat persetujuan secara aklamasi. Sebagaimana diceritakan dalam  sejarah orang yang pertama masuk masjid adalah Nabi, sebagaimana kesepakatan awal harusnya Nabi (kelompoknya) yang behak melakukan pemindahan hajar aswat, tapi Nabi memilih jalan kompromi semua kafilah dilibatkan. Maka saya pikir apa yang dicontohkan oleh Nabi bisa ditiru oleh pemimpin dari berbagai level, termasuk dalam hal pendidikan.